ada banyak rasa saat coding. ada keringat dan air mata dalam mencoding. keringat saat kau berusaha menyelami makna dalam setiap ilmu coding. dan air mata disaat tiada orang yang dapat membantumu, ketika program dalam keaadaan bugging. apapun rasa dalam mencoding. cobalah untuk mengerjakan sendiri. sampai kau bisa. dan benar-benar bisa.

Saturday, 19 January 2013

Sabarlah Dalam Penantian




















Menanti itu bukanlah satu penyiksaan...
Menanti itu juga bukan satu beban...
Jika kita menantinya dengan ikhlas...

Sesungguhnya ALLAH sengaja menguji kita dengan melambatkan sesuatu yang kita dambakan...

Sebenarnya ALLAH telah mengatur sesuatu yang lebih baik untuk kita yang sedang menanti...

Menantilah dengan penuh kesabaran...
Menantilah dengan penuh keimanan...

Karena InsyaAllah,

Akhir dari penantian itu adalah kebahagiaan...
Jangan pernah berhenti berdo’a dan meminta...
Karena ALLAH lah yang Maha Memberi...
Tetaplah menanti dengan sabar jawabanNYA...
Kerana janji ALLAH itu BENAR... YAKINLAH...

Berjanjilah


Wednesday, 2 January 2013

Haruskah Berhenti Sampai Disini


Malam-malam telah kuhabiskan untuk terjaga

Saat ini musim FP (Final Project). Tak satupun manusia Informatika dapat menikmati tidur tenangnya, termasuk juga aku. Ada banyak hal yang harus kupikirkan, termasuk Ibu.

Bunda, satu setengah tahun lamanya aku berdiri disini bersama kawan-kawan. menghabiskan umur dan waktuku melebur bersama syntax-syntax yang saling kronologis. Mulai dari  tingkat dasar yang serba hitam putih, sampai berbentuk warna-warni hingga melibatkan data dan objek. ah apapun namanya, itu tidak mudah

Bunda, masih ingat tidakkah dahulu tatkala aku baru pertama kali masuk disini? begitu galau dan gundah diriku. Aku menghabiskan waktu setahunku dengan sia-sia. Aku terlalu meresapi kesedihan, Bunda. dan aku masih sulit belajar arti sebuah keikhlasan, saat kita dalam kegagalan. Aku sadari itu, Bunda.

mereka, teman-teman belajar  saat setiap malamnya. sedangkan aku, hanya mengisi waktuku dengan persiapan snmptn selanjutnya. Aku masih ingat itu, Bunda.

Hingga suatu hari aku tersadar. itu semua sia-sia. Aku berubah, Bunda. Aku berubah. Sejak kutemui seseorang yang menginspirasiku, aku bercermin dan mulai menata semuanya yang telah kurobohkan beberapa tahun lalu. Aku mulai membangun pondasi semangatku pada setiap waktu. Kusebut nama Bunda sebelum dan sesudah pelajaran. Dan Kubayangkan wajahBunda saat kupanjatkan doa seusai shalat. dan tiap detik nafasku, aku berdoa agar aku bisa bertahan disini dan berubah

Tidak hanya Doa dan Niat, Bunda. Aku melakukan usahaku. Aku mulai membaca-baca beberapa literatur yang sekiranya bisa membantuku dalam perkuliahan. Ini tidak pernah kulakukan sebelumnya, Bunda. Aku mencoba beberapa syntax dalam malam-malamku. Walau sendiri, tetapi Pasti. Aku tidak ingin, Bunda, menunggu mereka usai lalu aku mengerjakannya. Aku harus bisa mandiri bunda. Aku tidak bisa secara terus menerus ketergantungan pada para dewa. Aku harus bisa sendiri, walau pedih rasanya. dan aku lelah Bunda menjadi seorang yang tertinggal, Aku juga ingin seperti mereka, kawan-kawanku..

dan nilai 90 Pemrograman untuk Bunda :'

Ini yang terjadi, setengah tahun berlalu, Bunda. Kupanjatkan doa agar senantiasa mudah dan dapat membahagiakan Bunda, Ayah, dan teman-teman.

Aku sudah mencintai Informatika kini... dan seisinya

Kepulanganku pun selalu malam, bahkan mendekati dini hari. Aku tahu bunda sangat hawatir kepadaku. Bunda juga tidak berkenan jika aku terus seperti ini. Walau, ini semua terjadi karena kesibukan dan jadwal yang begitu padat, disamping perananku yang amat begitu besar di Organisasi Fakultas

Bunda selalu mengingatkanku tiap hari. Bunda selalu berpesan "Jangan Nakal ya nak, sekali kamu ketahuan Berbohong, kamu harus berhenti kuliah...". Hampir setiap hari Bunda. dan beribu-ribu bahkan tak hingga aku menjelaskan kepada Bunda. Aku benar-benar serius menimba ilmu disini Bunda. Ini juga untuk Bunda, dan untuk semua

Namun aku bingung. Mengapa Bunda tidak pernah mempercayaiku. harus bagaimanakah diriku Bunda? Mengapa Bunda lebih percaya desas desus anak ITS yang selalu pulang malam. Mengapa Bunda mengiyakan contoh-contoh buruk yang ada disekita. dan mengapa Bunda harus menyamakan saya dengan contoh tersebut. Bunda aku tidak sama

Tidak dapatkah Bunda, percaya sekali saja...

Larut Malam aku pulang dan dengan kelelahan seusai pelbagai Asistensi dan Praktikum. lalu berlum ditambah rapat sana sini yang menyibukkanku. Tapi Bunda menyambuhtku dengan amarah

Hingga suatu ketika, Bunda marah padaku dan berkata "Atau bagaimana bila kamu seperti tolhas, yang keluar dari ITS. dan memilih jurusan yang tidak pulang malam dan kamu bisa berfikir sendiri". Mungkin ini sesekali. tapi ternyata tidak. Bunda mengatakan berulang-ulang kali. "Bagaimana Yu, bila kamu pindah kuliah saja" atau "Sudahlah, kamu Pindah Kuliah saja, keluar dari ITS"

Malam hari pun kuhabiskan waktu untuk menangisi kesedihanku, Bunda. aku bimbang Bunda, aku tidak ingin menyerah begitu saja. aku tidak ingin meninggalkan kampusku tercinta ini. apalagi bila harus pergi begitu saja, tanpa ingat betapa susahnya ketika memulai. namun, aku juga punya keterbatasan Bunda. Aku juga bisa lelah dengan semua ini. Bunda yang takkunjung marah dan curiga serta tekanan dari kampus yang menyodorkan banyak tugas. keduanya saling tidak mau tahu

sekarang,... adalah titik-titik yang mendebarkanku. Ini adalah akhir Semester 3 Bunda...

aku membayangkan, bagaimana nanti, diriku, setelah ini

Apakah aku harus memperjuangkan semua ini dan tetap bersekolah disini, karna tidak mudah Bunda, untuk menghancurkan semua yang telah kutata. Ataukah, mengikhlaskan diri dengan mengikuti kata Bunda walau mungkin sangat pedih rasanya

Dari sekian kegelisahanku, hanya ada satu pertanyaan dalam setiap air mata malam-malamku

Haruskah berhenti sampai disini, Bunda?
Harusskah ?


Tuesday, 1 January 2013

Tahun pertama kuliah Galau, gak masalah lah yau

Oke. Selamat berjumpa kembali pembaca
Baik, sekarang saya akan men-share pengalaman pribadi saya setelah memasuki perkuliahan selama satu tahun lebih ini.

Memang, Tidak semua apa yang kita harapkan pasti akan sesuai apa yang kita harapkan. seperti misalnya saya. Saya diterima di sebuah perguruan tinggi negeri, tepatnya di Teknik Informatika ITS. Saya galau saat setahun pertama berada disana. Bukan di ITS nya, namun saya galau berada di Informatikanya. Disana, saya menjadi murid paling bodoh karena saya tidak bisa me-mrogram. Jangankan memulai me-mrogram, mengerti topik bahasannya pun tidak. Ya, saya memang berbeda dengan teman-teman lain yang sudah menjadi dewa, menakhlukan pemrograman. Selain itu, teman-teman yang lain, memang sudah sengaja menyelami dunia pemrograman sejak SMA, sedangkan saya tidak. Berencana untuk masuk di fakultas ini pun tidak ada, dan saya tidak tahu bahwa pada akhirnya bisa masuk di sini juga. jadi serba tidak ada persiapan. Mereka, (teman-teman) sudah menginjak start 10 maka saya baru memulainya pada angka 0.

Pada saat itu, saya galau. tidak suka pelajarannya dan semua yang ada pada informatika. Tapi, semua pemikiran ini berubah pada suatu hari, dimana saya menemukan sebuah titik kesadaran.

"Apa yang kamu lakukan jika pada saat Kerja Praktek, Bos meminta untuk dibuatkan program. Lalu kamu tidak bisa. Tidak mungkin bertanya dulu pada teman, mereka tidak ada dalam ruangan Kerja Praktekmu. Apalagi menunggu contekan. Dunia Kerja tidak ada contekan. Semuanya berjalan berdasarkan kemampuanmu"
Ya, quote ini (berdasarkan kata hati) menyadarkan saya akan betapa pentingnya berdiri dan bangkit dari kesedihan. Saya memang seding karena gagal diterima di Fakultas Kedokteran, namun bukan berarti itu semua membunuh apa yang saya dapatkan sekarang. Bukan berarti saya mati di Informatika. Saya harus hidup. Saya harus bangkit dan berlari. Tak peduli betapa jauhnya teman-teman. Saya akan tetap berlari, hingga pelarianku sudah jau meninggalkan teman-teman.

dan saya selalu ingat :
Allah mengabulkan apa yang hambanya butuhkan, bukan kepada apa yang hambanya inginkan
ini menguatkan saya. Oke, saya tidak tahu mengapa saya ada di Informatika. Tetapi percayalah bahwa Tuhan, yang Maha Kuasa punya rencana. Tuhan berhak menjalankan arah hidup kita, dan kita selaku manusia wajib menjaga dan menerima apa yang Tuhan berikan kepada kita. Itulah cara sederhana bagaimana kita bersyukur. 

Kita sering berontak. Kita tidak akan mengerti sekarang. Tapi 10-20 tahun lagi, kita akan mengatakan "oo..." , dan mengerti maksud rencana Tuhan
Percayalah, Tuhan yang Maha Kuasa menyayangimu.

Oke, kembali ke subtopik. Dulu pada pelajaran "Pemrograman Terstruktur" saya tidak pernah bisa mengerjakan soal. sekalipun. Nilai yang saya dapat selalu 0 < x < 50. Bayangkan betapa bodohnya bukan?

Semuanya itu berbalik ketika saya mengikuti kata hati dan timbulnya kesadaran diri. Kini (Tahun ketiga) nilai UTS mata kuliah "Pemrograman Berorientasi Objek" saya adalah 90.
Mungkin banyak pertanyaan. Bagaimana bisa orang seperti saya ?

jawabnya mudah,
  1. Berusahalah bangkit dari keterpurukan, kesedihan, atau apapun yang membuat Anda tidak semangat pada apa yang anda dapat sekarang
  2. Berlatihlah coding sendiri dan Jangan pernah menunggu hasil pekerjaan teman (contekan, baceman, copy-paste) program teman. Kerjakanlah sendiri sehingga kau Bisa
  3. Fokuslah pada setiap pelajaran. Dosen berbicara didepan, adalah untuk kita dengar. Bukan untuk tidur di kelas atau Bukan untuk mencaci enak tidaknya beliau mengajar. Tapi serap ilmunya 100%. ini akan memudahkanmu dalam belajar 
 
  Sudah satu tahun Terlewatkan?
tidak Masalah. Sekali lagi saya katakan tidak masalah. Tidak ada kata "terlambat"  untuk memulai sebuah kebaikan. Berubahlah dari sekarang, sebelum saatnya kamu keluar dari Bangku universitas dan harus bertempur di medan perang sesungguhnya, dunia pekerjaan. dan berlatihlah, selagi kamu masih ada kesempatan untuk belajar di bangku Universitas


Semangat Selalu,
Trimakasih sudah membaca

Penulis

Saturday, 29 December 2012

Sepasang Mata untuk Bunga



Sahabatku mempunyai seorang kakak. Suatu hari aku pergi ke rumahnya, berharap aq bisa bermain-main, berbincang-bincang, dan menghabiskan waktuku seharian bersamanya. Namun saat kami tiba di rumah, terlihat seorang lelaki duduk di kursi teras rumah dengan pandangan yang lurus dan kosong, seakan Ia sedang menunggu seseorang.
"Darimana dek?" tanya lelaki itu.
"Dari jalan-jalan mas sama temanku. Oh iya, kenalkan ini temanku, Bunga" sahabatku memperkenalkanku.
"Yuk, silakan duduk Bunga. Tunggu disini ya. Silakan ngobrol dengan kakakku" Ia mempersilakanku.

Aku pun duduk di kursi teras yang tepat berada di hadapan lelaku itu. Ternyata, Ia adalah kakak laki-laki dari sahabatku. Suasana menjadi sunyi saat sahabatku sedang berada di dalam untuk membuatkanku segelas minuman. Dalam kesunyian itu, aku tidak berani sama sekali untuk mengangkat wajahku dan mengajak kakaknya berbicara. Aku begitu malu. Karena, sepintas saat kulihat tadi, kakak sahabatku begitu sangat tampan. Aku malu untuk menatap wajahnya. Dan aku pun hanya bisa senyum-senyum tanpa maksud yang jelas.

Melepas kesunyian itu, Ia mulai berbicara.
"Namanya siapa dek?" lepas suaranya yang begitu sangat indah.
"Bunga Mas" Sahutku. Aku masih saja menunduk.
"Saya kakaknya Bulan. Oh, jadi kamu ya yang sering diceritakan sama kakak. Bulan sering bercerita kepadaku tentangmu. Katanya, Ia punya sahabat yang..." belum selesai Ia berbicara, Bulan pun keluar membawa minuman dan memcah pembicaraan.
"Haai, maaf ya menunggu lama. ini minumannya. Eh, kamu mau main ke kamarku? Yuk nanti aku ajak. Oh ya aku ambilkan kue dulu ya" Ia pergi berlalu

Seteguk kuminum minuman segar itu. Lalu kuberanikan diri untuk melihat wajah kakak Sahabatku. Aku terdiam. Jantungku berhenti berdetak. Denyut nadiku ingin memompa keras-keras. Gelas yang kupegang tadi, rasanya mau jatuh karna sesuatu yang sangat mengejutkan itu.

Ia sangat tampan. Tampan sekali. Saat aku memberanikan diri untuk melihatnya, tak sadar, ternyata Ia menatapku sedari tadi. Pandangan matanya yang indah, menatapku lurus dan jatuh ke pandangan mataku. Sesekali Ia berkedip, namun tetap saja Ia menatapku. Jantungku terasa dag dig dug tidak karuan. Aku memang jatuh cinta padanya, saat pandangan pertama. Ketampanan parasnya begitu sempurna hingga tak ada kata yang melukiskannya.

"Ning Nong.. Ayo masuk ke dalam, Kita ke kamarku yuk.." Sahabatku membuka pintu dan memecah keheningan.
Kami meninggalkannya sendirian di teras dan menuju ke lantai dua, tempat Bulan beristirahat. Setelah itu, kami menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang, mengobrol tentang ini dan itu.
"Beb Bulan, kok kamu tidak pernah cerita kalau kamu punya seorang kakak. Laki-laki lagi. Kamu selalu cerita tentang Bunda, Papa, dan Adikmu Bintang. Dimana kakak laki-lakimu? Namanya pun tidak pernah kau sebut" tanyaku, yang sepintas membuatnya Ia terdiam.
"Jangan" sahut Bulan.
"Jangan?"
"Iya, Jangan. Nggak usah deh" Katanya menjelaskanku dengan lembut.
"Aku tidak tahu namanya. Siapa namanya?"
"Kenapa kamu ingin tahu?" tanya bulan dengan nada yang agak sensitif
"Aku hanya ingin tahu"
"Dia...kakak laki-lakiku yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa-siapa. Dia ada, tapi seperti tak ada. Itu karna dia begitu Istimewa. Tak pernah seorang pun mengunjunginya. Ia tak pernah memiliki seorang teman di luar. Apalagi, sampai jatuh cinta kepada seseorang ataupun bermain rasa dan emosi. Dia begitu lugu dan polos karna Ia tak pernah mengenal bagaimana dunia. Ia masih tetap bersama dirinya. Sendiri.. Sampai saat ini" jelas Bulan dengan bahasa dari hati ke hati.
"Maksudnya?" aku bingung dengan segala kalimatnya yang menurutku ambigu dan susah untuk ditebak-tebak.

Bulan mengalihkan pembicaraan kepada sesuatu yang lain agar aku tidak mengejarnya. Aku sedikit merasa kecewa saat itu, karna Ia tak menjawab pertanyaanku. Seolah-olah, Ia tidak suka jika aku mengenal kakaknya dan mengetahui namanya. Sesuatu yang aneh.

Jam menemani kami sampai larut malam. Saatnya untukku pulang ke rumah dan meninggalkan sahabatku. Esok, Ia bisa kujumpai lagi untuk membicarakan soal rencana bisnis rumah butik yang hendak kami buat di suatu perkelompokan ruko.

Kami turun menuju lantai pertama. Dan ternyata, Kakak sahabatku sedang berdiri di depan pintu, menghadap ke arah kami dengan senyuman. Tetap saja, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus. Jauh menembus tatapanku dan jatuh ke dalam lubuk hatiku.
"Mas, Bunga pulang dulu ya, sudah malam" Kata Bulan sambil mempersilakanku.
"Iya, hati-hati ya Bunga. Besok main lagi" Ia tersenyum padaku.
Aku tidak bisa menghitung berapa kali Ia membuatku dag dig dug dengan tatapan dan suaranya yang begitu indah dan lembut. Suaranya sangat lelaki, bass, namun romantis. Sungguh aneh jika Bulan tidak mau menceritakan kakaknya kepada dunia, lalu menyembunyikannya sampai terlalu lama termakan usia.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Malam hari setelah aku pergi ke rumah Bulan, aku sering memikirkan kakaknya. Terkenang begitu dalam, bagaimana Ia menatapku. Ia tak henti-hentinya menatapku. Pandangannya lurus lalu terjatuh dalam lubuk hatiku. Rasanya, aku ingin sering-sering pergi ke rumah sahabatku. Mungkin sekaligus untuk melihatnya dari kejauhan, meski aku belum mengetahui namanya. Siapakah nama dari gerangan yang kucinta.

Hari demi hari kusempatkan waktuku untuk mengunjungi Bulan. Dan sesekali, aku mencuri waktuku untuk menyapa hai seseorang yang sekarang sedang singgah dihatiku. Hingga suatu saat, Ia menyampaikan sesuatu kepadaku, dan aku begitu terkejut.
“Bunga,” Ia memanggilku lembut dan dengan senyuman.
“Boleh suatu hari nanti, aku bisa mengajakmu untuk jalan-jalan bersama? Oh mungkin di tempat dimana Bunga suka. ” pertanyaan yang sekejap membuat aku melayang, seolah-olah aku merasa menjadi gadis yang paling cantik.
Masih dengan hal yang sama, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus.
Aku tersenyum lalu berkata “Tentu saja boleh Mas, aku juga ingin pergi bersama, jalan-jalan. Apalagi dengan kakak”
Mendengar itu, senyumnya mengembang. Sampai-sampai, aku bisa merasakan betapa berbunga-bunga hatinya. Betapa bahagianya tatkala aku menerima ajakannya untuk pergi bersama. Aku merasa Ia juga jatuh cinta kepadaku.
Dan Ia tak henti-hentinya menatapku dengan pandangan yang lurus.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kami saling berkomunikasi lewat telepon hingga suatu hari kami saling menyepakati untuk bertemu di sebuah pantai yang indah. Ya! Aku suka pantai. Bagiku, pantai sama indahnya seperti saat aku dijendela lalu menatap hujan. Pantai sama indahnya seperti saat mendung yang senada dengan suasana hatiku. Disana kami bertemu, dan Ia menunggu di sebuah meja makan tepat di depan pemandangan pantai. Sepertinya, Ia sudah lama menungguku. Ia duduk disana dengan lagi-lagi pandangan yang lurus dan kosong.

Aku menghampirinya. Kami menghabiskan waktu dengan saling mengenal lebih dekat. Sesekali, kami tertawa menceritakan hal-hal yang lucu dariku. Seusai makan, mulailah saat-saat yang telah direncanakannya sejak Ia mengenalku.

Masih dengan hal yang sama, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus. Ia memegang tanganku dengan lembut di atas meja itu, lalu berkata, “Bunga, maukah kau menjadi” terhenti.“Kekasihku”.
Kata ‘kekasihku’ membuat keheningan terjadi. Suara desis angin dan ombak pun mulai melengkapi. Ia terus tetap saja menatapku, dengan pandangan yang lurus, tanpa gerakan bola mata kesana kemari. Karena selama ini aku juga menyimpan rasa terhadapnya, aku menerimanya. Kembali, Ia mengembangkan senyumnya. Ia menggenggam tanganku semakin erat dan disanalah kami saling berbunga-bunga, seperti namaku.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bulan demi bulan aku lalui hari-hariku bersamanya. Hingga hari ke 742, genap hari ulang tahun kisahku dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama di rumah Bulan, di teras, dan di tepi pantai dengan meja makan yang sengaja dipesan khusus olehnya atau saling menghabiskan malam lewat telepon. Hingga suatu hari kami memutuskan untuk memperikat janji kepada sebuah pernikahan. Bulan, sahabatku, sangat menyetujui jika aku menjadi kakak iparnya. Kedua keluarga kami pun juga sudah saling menyetujui. Dan saat yang Indah pun datang pada waktunya.

Ini hari pernikahanku. Aku memakai gaun yang sangat cantik, secantik wajahku. Aku yakin Ia akan sangat bangga melihatku. ‘Tok tok’ suara pintu terketuk oleh seseorang. Ia, calon suamiku, membuka pintunya lalu menghampiriku. Ia berdiri bersandar di dekat jendela itu.
“Aku cantik mas?” tanyaku. Masih dengan hal yang sama, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus.
“Kamu.. Canntik” Ia terseyum kepadaku. Aku berpaling dan kembali untuk merapikan make up ku didepan kaca rias.

Dibalik itu, dalam kaca riasku, aku melihatnya menangis. Ia meneteskan air mata. Aku terdiam dan sejenak menghentikan riasan bibirku. Ia berdiri dengan menatapku, dengan pandangan yang lurus, namun dengan tetesan air mata yang jatuh di kedua pipinya. Aku berbalik dan bertanya, “Mas, mengapa kau menangis?”. “Oh, tidak. Aku tidak menangis sayang, tadi ada debu masuk ke kedua mataku, jadi air mataku keluar” secara terhentak Ia cepat-cepat menghapus air matanya. Rupanya Ia tidak mengerti jika sedari tadi di dalam kaca, aku melihatnya menangis. Meneteskan air mata. Aku tidak tahu apa yang Ia rasakan. Mungkin terharu, karena selama ini Ia belum pernah bertemu dengan orang, mempunyai teman, apalagi bisa menikah denganku seperti ini.

 Ia menghampiriku dan mengajakku ke ruang acara. Sambil menuju kesana, aku terus-terus bertanya, “Aku cantik mas? Apa yang kurang?”. “Tidak, kamu sempurna. Kamu cantik” jawabnya dengan lembut. “Iya? Cantik mas?” “Kamu cantik sayang”

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Inilah saatnya Ia memakaikan sebuah cincin putih kepadaku. Masih dengan hal yang sama, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus. Seharusnya saat hendak memakaikan cincin itu, Ia melihat jari-jemariku, tetapi tidak Ia lakukan.

Tangan kirinya memegang tangan kananku, lalu tangan kanannya memegang cincin yang hendak Ia pasangkan ke jariku. Ia begitu kesulitan. Sesekali, cincin itu jatuh diantara jari telunjuk dan jari tengah. Lalu terjatuh diantara jari tenga dan jari manis. Bahkan terjatuh diantara Ibu jari dan jari telunjuk. Sungguh aneh. Mengapa Ia tak melihat menuju arah jariku yang hendak Ia pasangkan, namun justru tetap melihat mataku dengan pandangan yang lurus.

Para undangan tamu pun melihat kebingungan. Dan terdengan suara, “Ohhh..Dia..” “Ohhh..si Dia..” “Ternyata..Dia...” “Pengantin laki-lakinya...” “Dia...” suara gemuruh dari para tamu undangan. Hingga muncullah sebuah tangan yang membantu memasangkan cincin itu ke jariku. Ternyata Bulan, sahabatku.

Ia gugup. Tangannya bergetar. Namun Ia tetap menatapku dengan pandangan lurus. Dari itulah, aku mengetahui sesuatu yang tak pernah Ia sampaikan kepadaku.

Ia Buta.

“Ia Buta,” begitu Bunda sahabatku menjelaskanku. Pandanganku langsung hitam pekat. Sekejap seperti malam. Dan aku terjatuh pingsan. Aku tak sadarkan diri dan aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu.


Aku terbangun. Aku melihatnya yang sedang menungguku siuman dari pingsan. Ia duduk menatapku dengan pandangan lurus. Disanalah, kami saling beradu pendapat. Aku mempertanyakan kebohongan dan sandiwara yang telah Ia simpan selama ini.
“Mengapa tidak pernah kau jelaskan kepadaku mas, tentang keadaanmu. Mengapa kau simpan semua ini hingga sakit ku tahu. Mengapa kau tidak berusaha mengatakan yang sebenarnya, tentangmu. Mengapa?? Inikah besar rasa cintamu kepadaku mas. Tanpa harus kau tahu betapa sakitnya aku”
Ia tidak menjawab. Ia terdiam. Lalu meneteskan air mata. Ia menangis dalam kesunyian itu. Aku sungguh jengkel dengan sikapnya. Ia tidak menjawab semua pertanyaanku, namun hanya menjawabnya dengan tetesan air mata. Apa artinya butiran-butiran air mata itu. Tidak akan mampu mengembalikan kekecewaanku. Akhirnya, aku pun pergi meninggalkannya. Dan menghilang berbulan-bulan lamanya. Aku mencoba membuang nomor teleponku, berharap Ia dan Bulan tidak mencari kepergianku.

Aku begitu sangat kecewa. Ternyata Ia tak pernah benar-benar melihat wajahku. Ia tak mengenal bagaimana aku. Ia tak tahu siapa aku. Mengapa tak pernah Ia sampaikan kepadaku? Mengapa sahabat baikku, juga tak pernah menyampaikannya kepadaku?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berbulan-bulan lamanya itu, aku pulang ke kampung halamanku untuk menepis kekecewaanku. Lelah dengan persembunyian itu, aku menceritakan semuanya kepada ayahku. Dan inilah nasehat dari ayahku yang membuka hatiku,
“Seharusnya, kau tidak pergi meninggalkannya. Nak, tidak ada manusia yang sempurna. Oleh sebab itu, berusahalah untuk menerima dan mencintainya. Kamu tahu arti mencintai sesungguhnya nak? Mencintai adalah menyayangi sesuatu yang tidak sempurna, namun dengan cinta yang sempurna”.
Mencintai adalah menyayangi sesuatu yang tidak sempurna, namun dengan cinta yang sempurna. Ini adalah nasehat yang selalu aku ingat dari ayahku.
“Temuilah dia Nak”

Aku menerima nasehat dari Ayah dan keesokan harinya, aku langsung bergegas menuju kota untuk menemuinya. Aku menyadari bahwa sikap dan langkahku saat itu adalah hal yang sangat bodoh. Memang benar Ia telah menyakitiku dengan bersandiwara tentang Butanya, namun akan lebih menyakitkan lagi ketika aku mengetahui bahwa Ia Buta lalu meninggalkannya. Aku sungguh lebih kejam darinya. Aku sungguh sangat menyesal. Maafkan aku mas.

Di kota, aku menuju ke rumah Bulan. Aku mengetuk pintu rumahnya. Dengan cepat, pintu itu terbuka. Ternyata Bulan yang membukakan pintunya.
“Bungaa?..” Ia terkejut melihat kedatanganku.
“Mas ada Bulan ?” tanyaku dengan penuh rindu dan membendung air mataku.
Bulan terdiam. “Bulan..”
“Aku tak tahu Ia kemana. Sejak kepergianmu, Ia mengurung diri di kamar, hingga suatu hari aku dan keluarga tidak menemukannya di dalam kamar. Ia pergi entah kemana. Memangnya kenapa Bung? Kamu masih marah kepadanya? Tak cukupkah kau meninggalkannya saat kau tahu bahwa Ia Buta” Bulan memarahiku.
“Baiklah,.sampaikan kepadanya Bulan. Aku ingin bertemu dengannya. Aku sangat mencintainya” aku lekas pergi meninggalkannya. Aku meniggalkan nomer telepon yang bisa Ia hubungi jika Ia sudah menemukan kakaknya.
“Hubungi aku segera”

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa hari kemudian, aku mendapat telepon dari sahabatku. Ia memberikan kabar bahwa Ia sudah menemukan kakaknya.
“Aku sudah menemukannya. Ia mau menemuimu. Katanya, tunggu Ia di pantai. Tempat pertama kali kau menerima cintanya” ia lekas menutup teleponnya. “Hallo..”.

Ini sudah malam hari. Rasanya tak mungkin jika petang hari seperti ini aku pergi ke pantai. Ah aku tidak perduli, aku sangat ingin bertemu dengannya. Akhirnya aku pergi menuju ke sebuah pantai, tempat kami bertemu dulu.

Di pantai, Ia berdiri tegak menghadap ombak malam. Dengan bintang-bintang malam yang menghias diatasnya. Punggungnya yang gagah terlihat dari belakang, seolah-olah Ia sangat siap untuk menemuiku. Aku berjalan menghampiranya, namun Ia tidak menoleh ke arah yang Ia dengar. Aku pun berdiri di hadapannya.

Diam. Sunyi. Hening.

Ia yang biasa menatapku dengan pandangan yang lurus, kini berubah. Ia tak lagi seperti itu. Ia melihatku dengan bola mata yang bisa bergerak. Ia bisa melihatku. Ia tidak buta lagi.
“Halo sayang..” Ia menyapaku dengan lembut. Aku terkejut saat seseorang yang buta dulu, kini bisa melihatku dengan jelas. Aku memeluknya dan berkata, “Maafkan aku mas karna telah meninggalkanmu”. Ia memelukku dengan erat, “Tidak apa-apa sayang, aku memahamimu. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Aku mencintaimu tanpa berharap suatu balasan”. Aku menangis tersedu-sedu. Aku menyesal telah melukai seorang tuna netra yang putih hatinya.

Sekarang, Ia bisa melihat. Aku tak tahu bagaimana Ia bisa mendapatkan sepasang mata. Sepasang mata yang bisa digunakan untuk melihatku dan melihat dunia. Karena, yang kutahu selama ini, Bulan hidup dalam keluarga yang sangat sederhana. Jauh dari kehidupan yang berkecukupan. Darimana Ia mendapatkan uang untuk membeli sepasang mata ini?

Aku menanyakannya kepada Bulan. Lagi-lagi, Bulan terdiam. Lalu Ia menjelaskannya kepadaku dengan lembut, seperti dulu saat Ia masih menjadi sahabatku,
 “Aku memasang beberapa informasi di media. Dan sempat kutanyakan pada Lembaga sosial yang peduli akan orang hilang. Aku sangat menghawatirkan kakakku. Apalagi, dia seorang tuna netra. Tidak lama dari itu, aku mendapatkan kabar bahwa Ia berada di rumah sakit. Aku pikir Ia tertabrak karna Ia buta dan tidak bisa melihat lalu lalang kendaraan. Ternyata Tidak!.
Ia menjual ginjalnya, untuk menukarkan dengan sepasang Mata. Mata agar bisa melihatmu. Mata agar Ia bisa melihat seseorang yang dicintainya, namun pergi meninggalkannya. Aku sudah bertanya kepada kakakku, bagaimana bila seadainya, Kau Bunga tidak pernah kembali. Ia hanya menjawab, ‘Mataku ini untuknya. Bila dia tak pernah kembali? Biarlah adikku. Ia pernah mencintaiku, dan aku pernah mengisi ruang hatinya, itu sudah lebih cukup’

--Sekian—

Thursday, 16 August 2012

Sampaikan Rinduku pada Ayah

Aku masih menyimpannya. Buku usang yang telah berusia satu per empat dari usiaku kini. Buku pelajaran yang tidak mampu kubeli, lalu ku fotokopi milik seorang teman. Aku membuka setiap lembaran-lembarannya.  Masih terasa getaran-getaran semangat yang pernah ku bendung di bangku sekolah dulu. Masih terngiang beberapa rasa dan emosi yang pernah tercurah didalamnya.  Tulisan Handwrittingku yang penuh semangat, beserta coretan-coretan stabilo yang warnanya kini pudar dimakan waktu.

Sambil terus membuka tiap halamannya, aku teringat akan sesuatu. Beberapa kisah haru masa lalu.
Temanku. Junita namanya. Teman yang duduk bersamaku dulu. Aku selalu mencarinya, dimana kini kawanku itu berada, dan bagaimana kabarnya. Aku selalu berdoa semoga dia baik-baik saja.
Kawanku!, ya, iya punya cerita sendiri yang masih tersimpan dalam memori ini. Ia adalah satu-satunya teman yang sangat mengagumi dan menggemariku. Ntah dari sisi mana Ia melihat kelebihanku. Padahal, di balik itu aku sangat mengagumi dirinya sebagai seseorang yang tegar dalam kehidupan di usianya yang belia itu dan patuh terhadap orang tua. 

Ia selalu mencontek tugas dan tulisanku. Saat itu, Ia juga tidak mampu membeli buku-buku pelajaran. Namun Ia tak melakukan hal sepertiku, memfotokopi buku-buku dari seorang teman. Ia justru menggunakan bukuku bersama saat setiap pelajaran berlangsung. Aku bangga. Aku berbahagia bisa berbagi buku bersamanya. Aku bangga bila Ia mencontek tugasku lalu dibuatnya sebagai bahan belajar di rumahnya.
Teringat juga, akan sesuatu yang membuatku mengacungkan jempol pada diriku sendiri. Aku berhasil meraih peringkat lima dalam kelas. Suatu hal yang sangat kusyukuri, karna sebelumnya aku belum pernah dapat menginjak sepuluh besar. Lalu terpilih dalam beasiswa-beasiswa. Aku bangga menjadi bintang kelas. Seorang juara kelas, tentunya dapat membuat bangga setiap hati orang tuanya. Seorang juara kelas, biasanya mampu membuat ayah dan bundanya tersenyum. Tetapi tidak untukku!

Kawanku, Junita, selalu menyebut tentang hal ini, Enak ya, menjadi dirimu. Kamu pintar. Dan kamu juara kelas. Semua nilai-nilaimu bagus. Kamu tidak pernah mendapat angka dibawah 80. Kamu selalu menghiasi nilaimu dengan angka 9 dan 100. Kamu rajin lagi. Tidak seperti aku. Bapakku hanya seorang juru parkir. Ibuku tukang cuci baju. Aku jarang belajar karna harus membantu Ibu mencuci pakaian dan bekerja sana sini untuk mencukupi kebutuhan. Enak ya jadi dirimu. Aku pingin pintar sepertimu.
Ia selalu Iri terhadapku. Suatu hari, peryataan yang selalu Ia ungkapkan kepadaku itu, kujawab. Membuatnya terdiam, dan mengenangku.
Jun. Tidak semua seorang juara kelas, adalah sosok yang perfect. Diantara mereka, pasti ada yang pernah merasakan pahitnya kehidupan. Satu dan yang lain, tidak akan memiliki kisah yang sama.
Jun. Tahukah kau? Dibalik semua ini aku menyimpan rasa sakit yang amat begitu dalam. Jika kau selalu iri terhadapku yang selalu mendapatkan nilai sempurna disetiap pelajaran, maka aku selalu iri kepada mereka yang selalu bersama dengan Ayahnya. Aku hanya hidup dengan Ibuku, Jun. Aku tak pernah menemui sosok ayahku. Ntah ada di mana beliau sekarang. Ia telah pergi meninggalkan kami berdua.
Tahukah Jun? aku selalu iri kepada anak-anak yang dijemput ayahnya seusai sekolah. Menceritakan kisah pagi siangnya di sekolah. Menceritakan kisah cinta pertamanya di sekolah. Menceritakan hari-hari organisasi yang Ia lalui di sekolah. Bahkan bertanya akan kesulitan PR dan ujian-ujian mendatang. Lalu bergurau dengan hangat bersama ayahnya. Ketika Ia bersedih, Ia bisa memeluk ayahnya lalu bercerita, sehingga Ia tersenyum kembali. Ketika Ia bingung tentang nilai kehidupan, Ia bisa bertanya pada ayahnya. Dan ketika rindu, Ia bisa memeluk ayahnya.
Tetapi tidak aku, Jun!. Aku berangkat dan pulang dari sekolah sendiri, mengayuh sepeda kaki, sejauh kota ini. Aku menyimpan semua suka dan duka hari-hari di sekolahku, karna pada siapa aku bercerita.  Sedangkan Ibuku sibuk bekerja. Aku mengerjakan kesulitan-kesulitan PR sendiri. Ketika aku bersedih, aku hanya bisa menangis sendiri. Dan nilai kehidupan yang mestinya anak-anak dapatkan dari ayahnya, kudapatkan sendiri. Dan ketika rindu tiba, aku hanya bisa menangis dan berdoa,
‘Tuhan, kembalikanlah Ayahku..aku ingin bertemu dengannya. Dimana Ayahku.
Sampaikan kepadanya, Aku rindu. Aku ingin memeluk Ayah seperti teman-temanku. Dimana Ayahku’
Kau masih lebih baik dariku Jun Aku tersenyum.
Lalu melanjutkan, Masih ada Emak dan Bapak yang ada disampingmu. Emak dan Bapak yang ada di hatimu. Bapakmu bisa kau peluk kapanpun dan dimanamu saat kau rindu. Bapakmu masih ada untuk mendengarkan cerita hari-harimu. Tetapi tidak untukku Jun!
Inilah yang membuatku bertahan selama ini, Jun. Menjadi diriku yang seperti ini. Aku berharap, bila nanti waktunya aku dapat bertemu Ayahku, aku bisa memberikan nilai dan rapor-rapor yang kini kuhiasi dengan nilai sempurna. Aku tak tahu kapan waktu yang indah itu akan tiba. Kini, yang bisa kulakukan adal`h menjaga Ibuku, seperti Ayah menjagaku dan Ibu saat aku kecil, dan melakukan yang terbaik untuk Ayah.
Sayangi, Emak dan Bapakmu Jun. Selagi mereka masih ada..
Aku menutup buku itu. Dan menghentikan air mata yang mengalir, saat aku mengenang memori masa lalu.
Aku tahu.. Aku semakin rindu pada Ayahku,..
Rasa rindu ini telah hanyut bersama memori pada setiap lembaran-lembaran bukuku. Aku masih bisa merasakannya.
(menghela nafas) Sampaikan rinduku pada Ayah, aku ingin bertemu..  













Oleh : Ayufow

Sunday, 12 August 2012

Pintar


Pintar
Tak selalu harus jadi yang nomer satu
Tak selalu sempurna dalam segala hal
Alias Perfeksionis

Bagiku, Pintar adalah
Dimana Aku bisa belajar memahami
Dimana Pemahaman itu membuahkan hasil
Dimana Hasil itu dapat memberikan sebuah senyuman
Dimana Seyuman itu bisa memberikan memori
Dimana memori itu dapat kujadikan pedoman
Bagaimana Aku belajar
untuk mengerti...
dan memahami
sesuatu yang kata orang Pintar "itu mudah"
dan...
Jika Aku mengerti sesuatu itu
Maka Aku sudahlah menjadi Pintar


Oleh :
Ayufow