ada banyak rasa saat coding. ada keringat dan air mata dalam mencoding. keringat saat kau berusaha menyelami makna dalam setiap ilmu coding. dan air mata disaat tiada orang yang dapat membantumu, ketika program dalam keaadaan bugging. apapun rasa dalam mencoding. cobalah untuk mengerjakan sendiri. sampai kau bisa. dan benar-benar bisa.
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Saturday, 7 September 2013

Izinkan Aku untuk Memilih, Tuhan

Usiaku kini tak muda lagi. Kawan-kawan dan sanak saudara sepupuku sudah melalaui masa-masa paling indah dalam hidupnya, bertemu di janur kuning dengan jodohnya. Aku, masih sendiri.
Aku turut bahagia, melihat mereka kini sudah menemukan cinta sejatinya. Diantara mereka juga ada yang sudah memiliki putra-putri kecil nan lucu. Dan dalam ramainya malam keakraban bersama kawan, aku sosok wanita yang berdiri sendiri diantara pesta.

Kini aku tinggal dengan Ibuku yang sudah lanjut usia. Beliau telah melewati lebih dari setengah abadnya, menyusuri liku-liku kehidupan. Ibu banyak mengajarkan aku tentang hakikat kehidupan, cara bertahan di alam semesta, dan tentang cinta. Tapi tak sedikit Ibu selalu berperan dalam menentukan pilihan dalam hidupku.

Aku teringat akan masa kecilku, saat aku masih berada di bangku sekolah dasar. Saat itu adalah masa-masa kecil bagi seorang manusia untuk dapat menikmati cinta kasih sayang dari kedua orang tua. Pergi ke sekolah diantar dengan Ayah atau Bunda. Dan sepulang dari sekolah, anak-anak dapat bercerita tentang bagaimana suka duka harinya disekolah.Tetapi aku tidak dapat merasakan seperti apa yang anak-anak dapat rasakan saat itu. Aku pergi dan pulang dari sekolah dengan mengayuh sepeda kaki. Lalu sesampainya dirumah, aku hanya dapat menyimpan segala pertanyaan yang terlintas saat aku belajar disekolah. Tidak ada tempat untuk bertanya, atau bahkan bercerita. Ibu sedang sibuk bekerja dan ayah yang hidup terpisah dengan kami, entah beliau sedang berada dimana.

Di usia itupun, aku telah menjuarai beberapa kejuaraan melukis. Medali terakhirku di kancah Nasional yang kupajang di almariku, adalah lukisanku yang terinspirasi dari rasa rinduku yang mendalam kepada Ayah. Aku selalu menyimpan medali-medaliku dalam almari itu. Berharap, kapanpun Ayahku kembali, beliau akan sangat bangga dengan prestasi yang telah diraih putrinya. Sayangnya, sampai rambutku telah berwarna dua hitam dan putih menuju abu-abu, Ayah tak kunjung juga kembali. Mungkin, medali-medali itu cukup menjadi bukti cintaku kepada Ayah ataukah hanya menjadi kenangan kikisan rindu yang tak pernah tersampaikan.

Aku pun menuliskan cita-citaku dalam sanubari untuk menjadi seorang pelukis. Setiap hari aku melukis potret wajah seseorang. Memajangnya dalam dinding-dinding yang dingin dan lembab, hingga menghiasi seluruh ruangan. Namun, seindah apapun lukisan itu, Ibu tetap tidak menyukainya. Ibuku tidak menyetujui jika putri kecilnya itu ingin menjadi seorang pelukis. Ibu menginginkan anaknya untuk menjadi seorang dokter. Aku pun menuruti Ibu.

Beberapa tahun menginjak kedewasaan, aku merubah cita-citaku menjadi seorang dokter. Meski berat namun cita-cita inilah yang mengajakku untuk belajar lebih giat. Setiap hari aku berlatih terlebih dahulu tentang materi yang akan diajarkan oleh bapak ibu guruku. Membaca-baca pengetahuan yang seharusnya belum dimiliki oleh siswa pada umumnya. Memupuk semangat dan mimpi-mimpi indah, hingga cita-cita mulia menjadi dokter itu kini sudah mendarah daging. Mewarnai setiap hariku dan larut dalam setiap doaku, agar kelak aku dapat menjadi dokter yang dermawan di area medan perang dan korban bencana alam. Itu mimpiku. Aku pun menghiasi keindahan dalam masa remajaku dengan beberapa kejuaran olimpiade biologi, hingga mengharumkan almamaterku. Namun, sehebat apapun prestasiku dibidang biologi, Ibu tetap tidak menyukainya. Ibuku pada akhirnya tidak ingin bila putrinya menjadi seorang dokter. Ibu menginginkan anaknya untuk menjadi seorang insinyur. Aku menuruti Ibu.

Akhirnya aku menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang telah mencetak insinyur-insinyur cerdas di tanah airku. Disana aku mulai menghadapi beberapa rintangan. Aku terlihat paling bodoh diantara teman-temanku. Aku terlihat paling bejalan lambat dalam belajar. Mereka, teman-temanku, adalah mahasiswa yang memiliki kemampuan lebih didalam bidang analitik perhitungan dan logika. Ada juga diantara mereka yang sudah bertahun-tahun sejak disekolah telah menjuarai kejuaraan olimpiade komputer dan matematika. Tetapi tidak pada diriku, aku sangat berbeda dengan mereka. Aku sangat pandai menghafal dan rajin menulis. Aku selalu mendapatkan A dalam bidang pengetahuan alam dan biologi. Aku sangat mencintai dunia kesehatan dan sistem kerja fisiologi dan anatomi tubuh. Aku tidak pernah mendapatkan passion selama perkuliahanku. Karena inilah bukan pilihanku. Aku terpaksa mati, dan tenggelam dalam kerasnya persaingan kehidupan kampus.

Pada masa-masa perjuangan itu, aku bertemu dengan seseorang yang menjadi cinta pertamaku. Seorang pria yang sudah lama menjadi temanku, namun Ia baru mengungkapkannya setahun sebelum aku wisuda dari bangku perkuliahanku. Ia memang pria yang telah lama kucintai, jauh sebelum aku mengenalnya. Aku telah banyak menghabiskan waktu bersamanya, hingga lengkap senyum dan air mataku karnanya.

Suatu saat, aku memperkenalkan pria itu kepada Ibuku. Pria cinta pertamaku yang kuharapkan juga menjadi cinta terakhirku. Kukenalkan ia pada Ibu di hari itu. Ibu menyambutnya dengan ramah dan sepertinya terlihat bahwa Ibu telah menerimanya. Aku merasa bahagia mengetahui hal itu, walaupun dalam satu sisi dihatiku masih ada keraguan bahwa Ibu akan benar-benar menerima pria yang kucintai itu. Dan setelah lima tahun lamanya aku menjalani kisah bersamanya, akhirnya pria itu datang untuk melamarku.

Aku tidak dapat memberikan keputusan secara langsung kepadanya saat itu, karna aku harus menunggu keputusan Ibuku. Aku mendekati Ibuku dan menanyakan akan keputusan Ibu. Ibu terdiam. Begitu lama terdiam. Hingga aku memanggil Ibu berulang kali.
"Bu, apakah boleh aku menerimanya? aku sudah sangat menyayanginya, Bu?"
Ibu masih terdiam.
Setelah beberapa waktu aku menanyakannya kembali kepada Ibu, "Ibu,.. apakah Ibu tidak suka terhadap pria yang telah kucintai itu?"
Ibu masih terdiam.
Dengan mengehembuskan nafas panjang, Ibu mulai menjawab. 
"Nak, aku akan memperbolehkanmu dengan siapa saja, asalkan kau telah menuntaskan studimu di jenjang Magister di Jerman". itu jawabanmu.
Aku terdiam. termenung seketika disaat itu. Sungguh pilihan yang sangat berat. Aku tahu dibalik itu Ibu masih belum menyetujui atau bahkan belum bisa menerima pria yang datang melamarku itu. Meski dengan kata 'tidak', tapi inilah penolakan pertama Ibu yang paling membuatku amat bimbang. Ibu memang menolaknya dengan halus, hingga berkata 'tidak' saja, Ibu memberikan persyaratan kepadaku agar terlebih dahulu mengenyam bangku magister di negeri orang, Jerman.

Sungguh sulit bagiku untuk mengatakan kepadanya. Sungguh aku tak mampu untuk mengungkapkannya. Dia, pria pertama yang mampu membuat aku belajar cinta yang tulus, dimana aku mencintainya tanpa sebuah alasan. begitu murni.
"Dinda, Aku akan menunggumu sampai engkau selesai menempuh studi S2 mu di Jerman. Aku mencintaimu", Ia mengatakannya padaku. Rupanya Ia bersedia menungguku, saat itu. Pria itu lalu memelukku dengan sangat erat sambil mengucapkan perpisahan dan janji untuk slalu menungguku.

Kisah ceritaku bersamanya yang telah kubina selama lima tahun, akhirnya harus terhenti ketika aku harus menempuh studiku magister di Jerman. Aku menuruti Ibu.

3 Tahun Kemudian
aku kembali ke Indonesia. Aku bertemu Ibuku. Aku memeluk erat Ibuku. Aku sangat bahagia melihat beliau menyambutku dengan begitu bahagia di bandara, melihat putrinya telah berhasil menempuh pendidikan di luar negeri. Aku juga tak hanya berkuliah disana, tetapi juga mencoba bekerja di salah satu perusahaan teknologi disana. Bukan hanya bangga karena aku telah berhasil menuntaskan studiku disana, tetapi aku juga sangat bahagia karna inilah saatnya aku bisa bertemu kembali dengan sosok pria yang kucintai itu.

Sesampainya di rumah, aku memasuki kamar tidurku. Di atas mejaku, aku menemukan banyak undangan pernikahan dari kerabat-kerabat dan teman-teman lamaku di masa perkuliahan. Ibu menaruhnya dalam satu kotak. begitu banyak undangan-undangan itu, hingga aku tak bisa membacanya satu persatu.

hingga suatu hari, seorang tukang pos mengirimkan surat undangan pernikahan dari salah satu teman perguruan tinggiku. Bella, namanya. Bella adalah sahabat karibku di saat perkuliahan. dengan merasa amat bahagia, aku berniat untuk menghadiri pesta perkawinan sahabat lamaku itu. Aku mempersiapkan gaun pesta terindah dan cidera mata yang unik dan spesial untuk Bella.

Pukul tujuh malam waktu berjalan, aku memasuki resepsi pernikahan Bella. Bella dan Mas Yanto, mempelai di pernikahan itu. Aku memberinya ucapan selamat dan mendoakannya agar menjadi keluarga yang sakinah dan berbahagia. Para tamu undangan Bella pun merupakan teman-teman satu almamater kampus. Kami merasa seperti reuni. Banyak diantara mereka yang datang dengan menggandeng pasangannya. Ada juga diantara mereka yang mengajak buah hatinya, yang begitu putih seperti kertas tanpa noda.

Kami berbincang-bincang satu sama lain. Memperkenalkan diri masing-masing yang dalam keadaan yang lebih baik. Ada yang menjadi direktur, ada yang menjadi pegawai pemerintah, bahkan ada yang menjadi alim ulama di suatu pesantren. Dan ketika kutemui sosok seorang, yang tak asing dihati dan jiwaku. Dia. Pria itu. 

Dia, Pria itu.

Sosok pria yang telah kucintai lebih dari aku mengenalnya. Seorang pria yang telah menjalani lima tahun bersamanya. Dan sosok seorang pria yang telah datang melamarku delapan tahun lalu sebelum aku berangkat ke Jerman, kini Ia duduk didampingi oleh seorang wanita yang menggedong seorang balita. Dia, sudah ada yang memilikinya. Pria yang telah berjanji untuk menungguku selama aku menempuh studi di Jerman, sekarang telah menikah tanpa aku tahu kapan Ia memberitahuku detik waktunya.

Ia begitu bahagia, tertawa sambil duduk menemani keluarga kecilnya di pesta itu. Sementara aku disini, diam duduk membisu. Tak terasa, air mata ini pun jatuh mengalir, membahasi pipiku. Tak mau berhenti. Ia mengalir sesuka hatinya. Sampai pria itu menyadari keberadaanku.

Ia tertegun, terkejut melihat kehadiranku, yang sudah datang ke Indonesia. Ia pun berdiri mengajak istinya untuk menghampiriku. Dengan senyumannya yang penuh wibawa, ia menjabat tanganku
"Dinda, perkenalkan ini istriku Seli, dan ini anakku Rudi"
aku menjabat tangannya. Dan langsung teringat betapa hangatnya Ia memelukku saat itu, saat sebelum aku meninggalkan indonesia. Aku sungguh tak tahu, jika pelukan itu adalah pelukan terakhir yang kumiliki sebelum aku melanjutkan pendidikan di Jerman

Setelah menjabat tanganku itu, Ia pun pergi meninggalkanku, seperti sebelumnya tidak pernah mengenalku. Seperti diantara aku dan dia tidak pernah memiliki kisah apapun. Seperti aku dimatanya adalah bukan siapa-siapa. Bukan seseorang yang pernah mengisi hatinya. Aku bukanlah siapa-siapa.

Aku menangis. menangis kencang meninggalkan pesta itu. Aku pulang menuju rumah dan segera memeluk Ibuku.
"Ibu.... Ibu....." tangisku
"Kenapa, nak ? "
"Bu,... pria yang kucintai itu Bu. Pria yang datang melamarku dulu. Tadi datang ke dalam pesta perkawinan temanku. dan menjabat tanganku. lalu memperkenalkan istri dan anaknya kepadaku.
Aku siapa Bu, setelah lima tahun kujalani suka duka bersamanya.
Lalu hanya kutinggalkan tiga tahun untuk mendapatkan restumu, Ibu.
Ibu......"

Harapanku telah sirna sudah. aku berharap  dengan kepulanganku setelah menempuh studi itu aku dapat meraih restu Ibuku, ternyata tidak. Aku mendapatkannya lebih dari apa yang aku duga, setelah tiga tahun lamanya aku bersusah payah menimba ilmu di negeri orang, menuruti perintah Ibu. Pria itu telah pergi dan tak kan pernah kembali. Dan pria itu tak kan pernah dapat kumiliki

Puluhan Tahun Kemudian
Selama puluhan tahun lamanya, aku selalu menolak pria-pria pilihan Ibuku. Aku masih setia mencintainya. Kini rambutku sudah berwarna dua. Hitam dan putih menyatu menjadi abu-abu. Aku masih sering menerima undangan pesta pernikahan dari kerabat dan kawan-kawanku. Hingga kini, aku masih sendiri. Sendiri memendam dan mengubur rasa cinta itu dalam-dalam. Berharap Ia dapat pudar seiring berjalannya waktu. Berharap cinta yang tulus itu dapat terkikis oleh waktu.

Sungguh, waktu telah membuktikan besar cinta kita berdua. Akankah semakin bertambah rasa cinta itu, ataukah pudar seiring bertambahnya waktu.

Namun sayang, diusiaku yang sudah tak muda lagi ini, aku masih sangat mencintainya. Masih menunggunya. terbayang-bayang aku pulang dari bandara dan pria itu datang menyambutku dengan bahagia. Hanyalah angan-angan semata. Bukan karena aku kehilangan pelukan dari ragamu, tapi karna aku kehilangan cinta dan hatimu. "Entah sampai kapan, hingga senja aku masih menunggumu. Entah karna aku setia kepadamu, ataukah aku terlalu dungu. Aku akan slalu menunggumu"

Aku selalu menuruti Ibu. Hingga ujung masa senjaku. Aku masih hidup berdua bersama Ibuku. 

Entah aku harus berbuat apa, Tuhan, namun izinkan aku untuk sekali saja memilih dalam hidupku. Izinkanku agar aku dapat memiliki sebuah pilihan saja, sebuah pilihan yang berasalkan dari hati nuraniku. Bukan pilihan Ibu, atau bukan pilihan siapaun. Izinkan aku memilih, Tuhan. Aku ingin mencintainya seuumur hidupku



*Sebuah Puisi Dinda yang tersimpan puluhan tahun lamanya, untuk Pria yang dicintainya itu. dan tak ada seorang pun yang membaca.*
Kamu..
Melihatku seperti langit sore 
Begitu samar dengan bayangan
sedikit demi sedikit menghilang
Menjauhiku seperti tak pernah mengenalku
Membelakangi semua kisah indah
yang pernah dilalui bersama
Kemudian..
Kamu menyebutku.
Masa lalu

Wednesday, 2 January 2013

Haruskah Berhenti Sampai Disini


Malam-malam telah kuhabiskan untuk terjaga

Saat ini musim FP (Final Project). Tak satupun manusia Informatika dapat menikmati tidur tenangnya, termasuk juga aku. Ada banyak hal yang harus kupikirkan, termasuk Ibu.

Bunda, satu setengah tahun lamanya aku berdiri disini bersama kawan-kawan. menghabiskan umur dan waktuku melebur bersama syntax-syntax yang saling kronologis. Mulai dari  tingkat dasar yang serba hitam putih, sampai berbentuk warna-warni hingga melibatkan data dan objek. ah apapun namanya, itu tidak mudah

Bunda, masih ingat tidakkah dahulu tatkala aku baru pertama kali masuk disini? begitu galau dan gundah diriku. Aku menghabiskan waktu setahunku dengan sia-sia. Aku terlalu meresapi kesedihan, Bunda. dan aku masih sulit belajar arti sebuah keikhlasan, saat kita dalam kegagalan. Aku sadari itu, Bunda.

mereka, teman-teman belajar  saat setiap malamnya. sedangkan aku, hanya mengisi waktuku dengan persiapan snmptn selanjutnya. Aku masih ingat itu, Bunda.

Hingga suatu hari aku tersadar. itu semua sia-sia. Aku berubah, Bunda. Aku berubah. Sejak kutemui seseorang yang menginspirasiku, aku bercermin dan mulai menata semuanya yang telah kurobohkan beberapa tahun lalu. Aku mulai membangun pondasi semangatku pada setiap waktu. Kusebut nama Bunda sebelum dan sesudah pelajaran. Dan Kubayangkan wajahBunda saat kupanjatkan doa seusai shalat. dan tiap detik nafasku, aku berdoa agar aku bisa bertahan disini dan berubah

Tidak hanya Doa dan Niat, Bunda. Aku melakukan usahaku. Aku mulai membaca-baca beberapa literatur yang sekiranya bisa membantuku dalam perkuliahan. Ini tidak pernah kulakukan sebelumnya, Bunda. Aku mencoba beberapa syntax dalam malam-malamku. Walau sendiri, tetapi Pasti. Aku tidak ingin, Bunda, menunggu mereka usai lalu aku mengerjakannya. Aku harus bisa mandiri bunda. Aku tidak bisa secara terus menerus ketergantungan pada para dewa. Aku harus bisa sendiri, walau pedih rasanya. dan aku lelah Bunda menjadi seorang yang tertinggal, Aku juga ingin seperti mereka, kawan-kawanku..

dan nilai 90 Pemrograman untuk Bunda :'

Ini yang terjadi, setengah tahun berlalu, Bunda. Kupanjatkan doa agar senantiasa mudah dan dapat membahagiakan Bunda, Ayah, dan teman-teman.

Aku sudah mencintai Informatika kini... dan seisinya

Kepulanganku pun selalu malam, bahkan mendekati dini hari. Aku tahu bunda sangat hawatir kepadaku. Bunda juga tidak berkenan jika aku terus seperti ini. Walau, ini semua terjadi karena kesibukan dan jadwal yang begitu padat, disamping perananku yang amat begitu besar di Organisasi Fakultas

Bunda selalu mengingatkanku tiap hari. Bunda selalu berpesan "Jangan Nakal ya nak, sekali kamu ketahuan Berbohong, kamu harus berhenti kuliah...". Hampir setiap hari Bunda. dan beribu-ribu bahkan tak hingga aku menjelaskan kepada Bunda. Aku benar-benar serius menimba ilmu disini Bunda. Ini juga untuk Bunda, dan untuk semua

Namun aku bingung. Mengapa Bunda tidak pernah mempercayaiku. harus bagaimanakah diriku Bunda? Mengapa Bunda lebih percaya desas desus anak ITS yang selalu pulang malam. Mengapa Bunda mengiyakan contoh-contoh buruk yang ada disekita. dan mengapa Bunda harus menyamakan saya dengan contoh tersebut. Bunda aku tidak sama

Tidak dapatkah Bunda, percaya sekali saja...

Larut Malam aku pulang dan dengan kelelahan seusai pelbagai Asistensi dan Praktikum. lalu berlum ditambah rapat sana sini yang menyibukkanku. Tapi Bunda menyambuhtku dengan amarah

Hingga suatu ketika, Bunda marah padaku dan berkata "Atau bagaimana bila kamu seperti tolhas, yang keluar dari ITS. dan memilih jurusan yang tidak pulang malam dan kamu bisa berfikir sendiri". Mungkin ini sesekali. tapi ternyata tidak. Bunda mengatakan berulang-ulang kali. "Bagaimana Yu, bila kamu pindah kuliah saja" atau "Sudahlah, kamu Pindah Kuliah saja, keluar dari ITS"

Malam hari pun kuhabiskan waktu untuk menangisi kesedihanku, Bunda. aku bimbang Bunda, aku tidak ingin menyerah begitu saja. aku tidak ingin meninggalkan kampusku tercinta ini. apalagi bila harus pergi begitu saja, tanpa ingat betapa susahnya ketika memulai. namun, aku juga punya keterbatasan Bunda. Aku juga bisa lelah dengan semua ini. Bunda yang takkunjung marah dan curiga serta tekanan dari kampus yang menyodorkan banyak tugas. keduanya saling tidak mau tahu

sekarang,... adalah titik-titik yang mendebarkanku. Ini adalah akhir Semester 3 Bunda...

aku membayangkan, bagaimana nanti, diriku, setelah ini

Apakah aku harus memperjuangkan semua ini dan tetap bersekolah disini, karna tidak mudah Bunda, untuk menghancurkan semua yang telah kutata. Ataukah, mengikhlaskan diri dengan mengikuti kata Bunda walau mungkin sangat pedih rasanya

Dari sekian kegelisahanku, hanya ada satu pertanyaan dalam setiap air mata malam-malamku

Haruskah berhenti sampai disini, Bunda?
Harusskah ?


Saturday, 29 December 2012

Sepasang Mata untuk Bunga



Sahabatku mempunyai seorang kakak. Suatu hari aku pergi ke rumahnya, berharap aq bisa bermain-main, berbincang-bincang, dan menghabiskan waktuku seharian bersamanya. Namun saat kami tiba di rumah, terlihat seorang lelaki duduk di kursi teras rumah dengan pandangan yang lurus dan kosong, seakan Ia sedang menunggu seseorang.
"Darimana dek?" tanya lelaki itu.
"Dari jalan-jalan mas sama temanku. Oh iya, kenalkan ini temanku, Bunga" sahabatku memperkenalkanku.
"Yuk, silakan duduk Bunga. Tunggu disini ya. Silakan ngobrol dengan kakakku" Ia mempersilakanku.

Aku pun duduk di kursi teras yang tepat berada di hadapan lelaku itu. Ternyata, Ia adalah kakak laki-laki dari sahabatku. Suasana menjadi sunyi saat sahabatku sedang berada di dalam untuk membuatkanku segelas minuman. Dalam kesunyian itu, aku tidak berani sama sekali untuk mengangkat wajahku dan mengajak kakaknya berbicara. Aku begitu malu. Karena, sepintas saat kulihat tadi, kakak sahabatku begitu sangat tampan. Aku malu untuk menatap wajahnya. Dan aku pun hanya bisa senyum-senyum tanpa maksud yang jelas.

Melepas kesunyian itu, Ia mulai berbicara.
"Namanya siapa dek?" lepas suaranya yang begitu sangat indah.
"Bunga Mas" Sahutku. Aku masih saja menunduk.
"Saya kakaknya Bulan. Oh, jadi kamu ya yang sering diceritakan sama kakak. Bulan sering bercerita kepadaku tentangmu. Katanya, Ia punya sahabat yang..." belum selesai Ia berbicara, Bulan pun keluar membawa minuman dan memcah pembicaraan.
"Haai, maaf ya menunggu lama. ini minumannya. Eh, kamu mau main ke kamarku? Yuk nanti aku ajak. Oh ya aku ambilkan kue dulu ya" Ia pergi berlalu

Seteguk kuminum minuman segar itu. Lalu kuberanikan diri untuk melihat wajah kakak Sahabatku. Aku terdiam. Jantungku berhenti berdetak. Denyut nadiku ingin memompa keras-keras. Gelas yang kupegang tadi, rasanya mau jatuh karna sesuatu yang sangat mengejutkan itu.

Ia sangat tampan. Tampan sekali. Saat aku memberanikan diri untuk melihatnya, tak sadar, ternyata Ia menatapku sedari tadi. Pandangan matanya yang indah, menatapku lurus dan jatuh ke pandangan mataku. Sesekali Ia berkedip, namun tetap saja Ia menatapku. Jantungku terasa dag dig dug tidak karuan. Aku memang jatuh cinta padanya, saat pandangan pertama. Ketampanan parasnya begitu sempurna hingga tak ada kata yang melukiskannya.

"Ning Nong.. Ayo masuk ke dalam, Kita ke kamarku yuk.." Sahabatku membuka pintu dan memecah keheningan.
Kami meninggalkannya sendirian di teras dan menuju ke lantai dua, tempat Bulan beristirahat. Setelah itu, kami menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang, mengobrol tentang ini dan itu.
"Beb Bulan, kok kamu tidak pernah cerita kalau kamu punya seorang kakak. Laki-laki lagi. Kamu selalu cerita tentang Bunda, Papa, dan Adikmu Bintang. Dimana kakak laki-lakimu? Namanya pun tidak pernah kau sebut" tanyaku, yang sepintas membuatnya Ia terdiam.
"Jangan" sahut Bulan.
"Jangan?"
"Iya, Jangan. Nggak usah deh" Katanya menjelaskanku dengan lembut.
"Aku tidak tahu namanya. Siapa namanya?"
"Kenapa kamu ingin tahu?" tanya bulan dengan nada yang agak sensitif
"Aku hanya ingin tahu"
"Dia...kakak laki-lakiku yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa-siapa. Dia ada, tapi seperti tak ada. Itu karna dia begitu Istimewa. Tak pernah seorang pun mengunjunginya. Ia tak pernah memiliki seorang teman di luar. Apalagi, sampai jatuh cinta kepada seseorang ataupun bermain rasa dan emosi. Dia begitu lugu dan polos karna Ia tak pernah mengenal bagaimana dunia. Ia masih tetap bersama dirinya. Sendiri.. Sampai saat ini" jelas Bulan dengan bahasa dari hati ke hati.
"Maksudnya?" aku bingung dengan segala kalimatnya yang menurutku ambigu dan susah untuk ditebak-tebak.

Bulan mengalihkan pembicaraan kepada sesuatu yang lain agar aku tidak mengejarnya. Aku sedikit merasa kecewa saat itu, karna Ia tak menjawab pertanyaanku. Seolah-olah, Ia tidak suka jika aku mengenal kakaknya dan mengetahui namanya. Sesuatu yang aneh.

Jam menemani kami sampai larut malam. Saatnya untukku pulang ke rumah dan meninggalkan sahabatku. Esok, Ia bisa kujumpai lagi untuk membicarakan soal rencana bisnis rumah butik yang hendak kami buat di suatu perkelompokan ruko.

Kami turun menuju lantai pertama. Dan ternyata, Kakak sahabatku sedang berdiri di depan pintu, menghadap ke arah kami dengan senyuman. Tetap saja, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus. Jauh menembus tatapanku dan jatuh ke dalam lubuk hatiku.
"Mas, Bunga pulang dulu ya, sudah malam" Kata Bulan sambil mempersilakanku.
"Iya, hati-hati ya Bunga. Besok main lagi" Ia tersenyum padaku.
Aku tidak bisa menghitung berapa kali Ia membuatku dag dig dug dengan tatapan dan suaranya yang begitu indah dan lembut. Suaranya sangat lelaki, bass, namun romantis. Sungguh aneh jika Bulan tidak mau menceritakan kakaknya kepada dunia, lalu menyembunyikannya sampai terlalu lama termakan usia.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Malam hari setelah aku pergi ke rumah Bulan, aku sering memikirkan kakaknya. Terkenang begitu dalam, bagaimana Ia menatapku. Ia tak henti-hentinya menatapku. Pandangannya lurus lalu terjatuh dalam lubuk hatiku. Rasanya, aku ingin sering-sering pergi ke rumah sahabatku. Mungkin sekaligus untuk melihatnya dari kejauhan, meski aku belum mengetahui namanya. Siapakah nama dari gerangan yang kucinta.

Hari demi hari kusempatkan waktuku untuk mengunjungi Bulan. Dan sesekali, aku mencuri waktuku untuk menyapa hai seseorang yang sekarang sedang singgah dihatiku. Hingga suatu saat, Ia menyampaikan sesuatu kepadaku, dan aku begitu terkejut.
“Bunga,” Ia memanggilku lembut dan dengan senyuman.
“Boleh suatu hari nanti, aku bisa mengajakmu untuk jalan-jalan bersama? Oh mungkin di tempat dimana Bunga suka. ” pertanyaan yang sekejap membuat aku melayang, seolah-olah aku merasa menjadi gadis yang paling cantik.
Masih dengan hal yang sama, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus.
Aku tersenyum lalu berkata “Tentu saja boleh Mas, aku juga ingin pergi bersama, jalan-jalan. Apalagi dengan kakak”
Mendengar itu, senyumnya mengembang. Sampai-sampai, aku bisa merasakan betapa berbunga-bunga hatinya. Betapa bahagianya tatkala aku menerima ajakannya untuk pergi bersama. Aku merasa Ia juga jatuh cinta kepadaku.
Dan Ia tak henti-hentinya menatapku dengan pandangan yang lurus.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kami saling berkomunikasi lewat telepon hingga suatu hari kami saling menyepakati untuk bertemu di sebuah pantai yang indah. Ya! Aku suka pantai. Bagiku, pantai sama indahnya seperti saat aku dijendela lalu menatap hujan. Pantai sama indahnya seperti saat mendung yang senada dengan suasana hatiku. Disana kami bertemu, dan Ia menunggu di sebuah meja makan tepat di depan pemandangan pantai. Sepertinya, Ia sudah lama menungguku. Ia duduk disana dengan lagi-lagi pandangan yang lurus dan kosong.

Aku menghampirinya. Kami menghabiskan waktu dengan saling mengenal lebih dekat. Sesekali, kami tertawa menceritakan hal-hal yang lucu dariku. Seusai makan, mulailah saat-saat yang telah direncanakannya sejak Ia mengenalku.

Masih dengan hal yang sama, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus. Ia memegang tanganku dengan lembut di atas meja itu, lalu berkata, “Bunga, maukah kau menjadi” terhenti.“Kekasihku”.
Kata ‘kekasihku’ membuat keheningan terjadi. Suara desis angin dan ombak pun mulai melengkapi. Ia terus tetap saja menatapku, dengan pandangan yang lurus, tanpa gerakan bola mata kesana kemari. Karena selama ini aku juga menyimpan rasa terhadapnya, aku menerimanya. Kembali, Ia mengembangkan senyumnya. Ia menggenggam tanganku semakin erat dan disanalah kami saling berbunga-bunga, seperti namaku.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bulan demi bulan aku lalui hari-hariku bersamanya. Hingga hari ke 742, genap hari ulang tahun kisahku dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama di rumah Bulan, di teras, dan di tepi pantai dengan meja makan yang sengaja dipesan khusus olehnya atau saling menghabiskan malam lewat telepon. Hingga suatu hari kami memutuskan untuk memperikat janji kepada sebuah pernikahan. Bulan, sahabatku, sangat menyetujui jika aku menjadi kakak iparnya. Kedua keluarga kami pun juga sudah saling menyetujui. Dan saat yang Indah pun datang pada waktunya.

Ini hari pernikahanku. Aku memakai gaun yang sangat cantik, secantik wajahku. Aku yakin Ia akan sangat bangga melihatku. ‘Tok tok’ suara pintu terketuk oleh seseorang. Ia, calon suamiku, membuka pintunya lalu menghampiriku. Ia berdiri bersandar di dekat jendela itu.
“Aku cantik mas?” tanyaku. Masih dengan hal yang sama, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus.
“Kamu.. Canntik” Ia terseyum kepadaku. Aku berpaling dan kembali untuk merapikan make up ku didepan kaca rias.

Dibalik itu, dalam kaca riasku, aku melihatnya menangis. Ia meneteskan air mata. Aku terdiam dan sejenak menghentikan riasan bibirku. Ia berdiri dengan menatapku, dengan pandangan yang lurus, namun dengan tetesan air mata yang jatuh di kedua pipinya. Aku berbalik dan bertanya, “Mas, mengapa kau menangis?”. “Oh, tidak. Aku tidak menangis sayang, tadi ada debu masuk ke kedua mataku, jadi air mataku keluar” secara terhentak Ia cepat-cepat menghapus air matanya. Rupanya Ia tidak mengerti jika sedari tadi di dalam kaca, aku melihatnya menangis. Meneteskan air mata. Aku tidak tahu apa yang Ia rasakan. Mungkin terharu, karena selama ini Ia belum pernah bertemu dengan orang, mempunyai teman, apalagi bisa menikah denganku seperti ini.

 Ia menghampiriku dan mengajakku ke ruang acara. Sambil menuju kesana, aku terus-terus bertanya, “Aku cantik mas? Apa yang kurang?”. “Tidak, kamu sempurna. Kamu cantik” jawabnya dengan lembut. “Iya? Cantik mas?” “Kamu cantik sayang”

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Inilah saatnya Ia memakaikan sebuah cincin putih kepadaku. Masih dengan hal yang sama, Ia menatapku dengan pandangan yang lurus. Seharusnya saat hendak memakaikan cincin itu, Ia melihat jari-jemariku, tetapi tidak Ia lakukan.

Tangan kirinya memegang tangan kananku, lalu tangan kanannya memegang cincin yang hendak Ia pasangkan ke jariku. Ia begitu kesulitan. Sesekali, cincin itu jatuh diantara jari telunjuk dan jari tengah. Lalu terjatuh diantara jari tenga dan jari manis. Bahkan terjatuh diantara Ibu jari dan jari telunjuk. Sungguh aneh. Mengapa Ia tak melihat menuju arah jariku yang hendak Ia pasangkan, namun justru tetap melihat mataku dengan pandangan yang lurus.

Para undangan tamu pun melihat kebingungan. Dan terdengan suara, “Ohhh..Dia..” “Ohhh..si Dia..” “Ternyata..Dia...” “Pengantin laki-lakinya...” “Dia...” suara gemuruh dari para tamu undangan. Hingga muncullah sebuah tangan yang membantu memasangkan cincin itu ke jariku. Ternyata Bulan, sahabatku.

Ia gugup. Tangannya bergetar. Namun Ia tetap menatapku dengan pandangan lurus. Dari itulah, aku mengetahui sesuatu yang tak pernah Ia sampaikan kepadaku.

Ia Buta.

“Ia Buta,” begitu Bunda sahabatku menjelaskanku. Pandanganku langsung hitam pekat. Sekejap seperti malam. Dan aku terjatuh pingsan. Aku tak sadarkan diri dan aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu.


Aku terbangun. Aku melihatnya yang sedang menungguku siuman dari pingsan. Ia duduk menatapku dengan pandangan lurus. Disanalah, kami saling beradu pendapat. Aku mempertanyakan kebohongan dan sandiwara yang telah Ia simpan selama ini.
“Mengapa tidak pernah kau jelaskan kepadaku mas, tentang keadaanmu. Mengapa kau simpan semua ini hingga sakit ku tahu. Mengapa kau tidak berusaha mengatakan yang sebenarnya, tentangmu. Mengapa?? Inikah besar rasa cintamu kepadaku mas. Tanpa harus kau tahu betapa sakitnya aku”
Ia tidak menjawab. Ia terdiam. Lalu meneteskan air mata. Ia menangis dalam kesunyian itu. Aku sungguh jengkel dengan sikapnya. Ia tidak menjawab semua pertanyaanku, namun hanya menjawabnya dengan tetesan air mata. Apa artinya butiran-butiran air mata itu. Tidak akan mampu mengembalikan kekecewaanku. Akhirnya, aku pun pergi meninggalkannya. Dan menghilang berbulan-bulan lamanya. Aku mencoba membuang nomor teleponku, berharap Ia dan Bulan tidak mencari kepergianku.

Aku begitu sangat kecewa. Ternyata Ia tak pernah benar-benar melihat wajahku. Ia tak mengenal bagaimana aku. Ia tak tahu siapa aku. Mengapa tak pernah Ia sampaikan kepadaku? Mengapa sahabat baikku, juga tak pernah menyampaikannya kepadaku?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berbulan-bulan lamanya itu, aku pulang ke kampung halamanku untuk menepis kekecewaanku. Lelah dengan persembunyian itu, aku menceritakan semuanya kepada ayahku. Dan inilah nasehat dari ayahku yang membuka hatiku,
“Seharusnya, kau tidak pergi meninggalkannya. Nak, tidak ada manusia yang sempurna. Oleh sebab itu, berusahalah untuk menerima dan mencintainya. Kamu tahu arti mencintai sesungguhnya nak? Mencintai adalah menyayangi sesuatu yang tidak sempurna, namun dengan cinta yang sempurna”.
Mencintai adalah menyayangi sesuatu yang tidak sempurna, namun dengan cinta yang sempurna. Ini adalah nasehat yang selalu aku ingat dari ayahku.
“Temuilah dia Nak”

Aku menerima nasehat dari Ayah dan keesokan harinya, aku langsung bergegas menuju kota untuk menemuinya. Aku menyadari bahwa sikap dan langkahku saat itu adalah hal yang sangat bodoh. Memang benar Ia telah menyakitiku dengan bersandiwara tentang Butanya, namun akan lebih menyakitkan lagi ketika aku mengetahui bahwa Ia Buta lalu meninggalkannya. Aku sungguh lebih kejam darinya. Aku sungguh sangat menyesal. Maafkan aku mas.

Di kota, aku menuju ke rumah Bulan. Aku mengetuk pintu rumahnya. Dengan cepat, pintu itu terbuka. Ternyata Bulan yang membukakan pintunya.
“Bungaa?..” Ia terkejut melihat kedatanganku.
“Mas ada Bulan ?” tanyaku dengan penuh rindu dan membendung air mataku.
Bulan terdiam. “Bulan..”
“Aku tak tahu Ia kemana. Sejak kepergianmu, Ia mengurung diri di kamar, hingga suatu hari aku dan keluarga tidak menemukannya di dalam kamar. Ia pergi entah kemana. Memangnya kenapa Bung? Kamu masih marah kepadanya? Tak cukupkah kau meninggalkannya saat kau tahu bahwa Ia Buta” Bulan memarahiku.
“Baiklah,.sampaikan kepadanya Bulan. Aku ingin bertemu dengannya. Aku sangat mencintainya” aku lekas pergi meninggalkannya. Aku meniggalkan nomer telepon yang bisa Ia hubungi jika Ia sudah menemukan kakaknya.
“Hubungi aku segera”

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa hari kemudian, aku mendapat telepon dari sahabatku. Ia memberikan kabar bahwa Ia sudah menemukan kakaknya.
“Aku sudah menemukannya. Ia mau menemuimu. Katanya, tunggu Ia di pantai. Tempat pertama kali kau menerima cintanya” ia lekas menutup teleponnya. “Hallo..”.

Ini sudah malam hari. Rasanya tak mungkin jika petang hari seperti ini aku pergi ke pantai. Ah aku tidak perduli, aku sangat ingin bertemu dengannya. Akhirnya aku pergi menuju ke sebuah pantai, tempat kami bertemu dulu.

Di pantai, Ia berdiri tegak menghadap ombak malam. Dengan bintang-bintang malam yang menghias diatasnya. Punggungnya yang gagah terlihat dari belakang, seolah-olah Ia sangat siap untuk menemuiku. Aku berjalan menghampiranya, namun Ia tidak menoleh ke arah yang Ia dengar. Aku pun berdiri di hadapannya.

Diam. Sunyi. Hening.

Ia yang biasa menatapku dengan pandangan yang lurus, kini berubah. Ia tak lagi seperti itu. Ia melihatku dengan bola mata yang bisa bergerak. Ia bisa melihatku. Ia tidak buta lagi.
“Halo sayang..” Ia menyapaku dengan lembut. Aku terkejut saat seseorang yang buta dulu, kini bisa melihatku dengan jelas. Aku memeluknya dan berkata, “Maafkan aku mas karna telah meninggalkanmu”. Ia memelukku dengan erat, “Tidak apa-apa sayang, aku memahamimu. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Aku mencintaimu tanpa berharap suatu balasan”. Aku menangis tersedu-sedu. Aku menyesal telah melukai seorang tuna netra yang putih hatinya.

Sekarang, Ia bisa melihat. Aku tak tahu bagaimana Ia bisa mendapatkan sepasang mata. Sepasang mata yang bisa digunakan untuk melihatku dan melihat dunia. Karena, yang kutahu selama ini, Bulan hidup dalam keluarga yang sangat sederhana. Jauh dari kehidupan yang berkecukupan. Darimana Ia mendapatkan uang untuk membeli sepasang mata ini?

Aku menanyakannya kepada Bulan. Lagi-lagi, Bulan terdiam. Lalu Ia menjelaskannya kepadaku dengan lembut, seperti dulu saat Ia masih menjadi sahabatku,
 “Aku memasang beberapa informasi di media. Dan sempat kutanyakan pada Lembaga sosial yang peduli akan orang hilang. Aku sangat menghawatirkan kakakku. Apalagi, dia seorang tuna netra. Tidak lama dari itu, aku mendapatkan kabar bahwa Ia berada di rumah sakit. Aku pikir Ia tertabrak karna Ia buta dan tidak bisa melihat lalu lalang kendaraan. Ternyata Tidak!.
Ia menjual ginjalnya, untuk menukarkan dengan sepasang Mata. Mata agar bisa melihatmu. Mata agar Ia bisa melihat seseorang yang dicintainya, namun pergi meninggalkannya. Aku sudah bertanya kepada kakakku, bagaimana bila seadainya, Kau Bunga tidak pernah kembali. Ia hanya menjawab, ‘Mataku ini untuknya. Bila dia tak pernah kembali? Biarlah adikku. Ia pernah mencintaiku, dan aku pernah mengisi ruang hatinya, itu sudah lebih cukup’

--Sekian—

Thursday, 16 August 2012

Sampaikan Rinduku pada Ayah

Aku masih menyimpannya. Buku usang yang telah berusia satu per empat dari usiaku kini. Buku pelajaran yang tidak mampu kubeli, lalu ku fotokopi milik seorang teman. Aku membuka setiap lembaran-lembarannya.  Masih terasa getaran-getaran semangat yang pernah ku bendung di bangku sekolah dulu. Masih terngiang beberapa rasa dan emosi yang pernah tercurah didalamnya.  Tulisan Handwrittingku yang penuh semangat, beserta coretan-coretan stabilo yang warnanya kini pudar dimakan waktu.

Sambil terus membuka tiap halamannya, aku teringat akan sesuatu. Beberapa kisah haru masa lalu.
Temanku. Junita namanya. Teman yang duduk bersamaku dulu. Aku selalu mencarinya, dimana kini kawanku itu berada, dan bagaimana kabarnya. Aku selalu berdoa semoga dia baik-baik saja.
Kawanku!, ya, iya punya cerita sendiri yang masih tersimpan dalam memori ini. Ia adalah satu-satunya teman yang sangat mengagumi dan menggemariku. Ntah dari sisi mana Ia melihat kelebihanku. Padahal, di balik itu aku sangat mengagumi dirinya sebagai seseorang yang tegar dalam kehidupan di usianya yang belia itu dan patuh terhadap orang tua. 

Ia selalu mencontek tugas dan tulisanku. Saat itu, Ia juga tidak mampu membeli buku-buku pelajaran. Namun Ia tak melakukan hal sepertiku, memfotokopi buku-buku dari seorang teman. Ia justru menggunakan bukuku bersama saat setiap pelajaran berlangsung. Aku bangga. Aku berbahagia bisa berbagi buku bersamanya. Aku bangga bila Ia mencontek tugasku lalu dibuatnya sebagai bahan belajar di rumahnya.
Teringat juga, akan sesuatu yang membuatku mengacungkan jempol pada diriku sendiri. Aku berhasil meraih peringkat lima dalam kelas. Suatu hal yang sangat kusyukuri, karna sebelumnya aku belum pernah dapat menginjak sepuluh besar. Lalu terpilih dalam beasiswa-beasiswa. Aku bangga menjadi bintang kelas. Seorang juara kelas, tentunya dapat membuat bangga setiap hati orang tuanya. Seorang juara kelas, biasanya mampu membuat ayah dan bundanya tersenyum. Tetapi tidak untukku!

Kawanku, Junita, selalu menyebut tentang hal ini, Enak ya, menjadi dirimu. Kamu pintar. Dan kamu juara kelas. Semua nilai-nilaimu bagus. Kamu tidak pernah mendapat angka dibawah 80. Kamu selalu menghiasi nilaimu dengan angka 9 dan 100. Kamu rajin lagi. Tidak seperti aku. Bapakku hanya seorang juru parkir. Ibuku tukang cuci baju. Aku jarang belajar karna harus membantu Ibu mencuci pakaian dan bekerja sana sini untuk mencukupi kebutuhan. Enak ya jadi dirimu. Aku pingin pintar sepertimu.
Ia selalu Iri terhadapku. Suatu hari, peryataan yang selalu Ia ungkapkan kepadaku itu, kujawab. Membuatnya terdiam, dan mengenangku.
Jun. Tidak semua seorang juara kelas, adalah sosok yang perfect. Diantara mereka, pasti ada yang pernah merasakan pahitnya kehidupan. Satu dan yang lain, tidak akan memiliki kisah yang sama.
Jun. Tahukah kau? Dibalik semua ini aku menyimpan rasa sakit yang amat begitu dalam. Jika kau selalu iri terhadapku yang selalu mendapatkan nilai sempurna disetiap pelajaran, maka aku selalu iri kepada mereka yang selalu bersama dengan Ayahnya. Aku hanya hidup dengan Ibuku, Jun. Aku tak pernah menemui sosok ayahku. Ntah ada di mana beliau sekarang. Ia telah pergi meninggalkan kami berdua.
Tahukah Jun? aku selalu iri kepada anak-anak yang dijemput ayahnya seusai sekolah. Menceritakan kisah pagi siangnya di sekolah. Menceritakan kisah cinta pertamanya di sekolah. Menceritakan hari-hari organisasi yang Ia lalui di sekolah. Bahkan bertanya akan kesulitan PR dan ujian-ujian mendatang. Lalu bergurau dengan hangat bersama ayahnya. Ketika Ia bersedih, Ia bisa memeluk ayahnya lalu bercerita, sehingga Ia tersenyum kembali. Ketika Ia bingung tentang nilai kehidupan, Ia bisa bertanya pada ayahnya. Dan ketika rindu, Ia bisa memeluk ayahnya.
Tetapi tidak aku, Jun!. Aku berangkat dan pulang dari sekolah sendiri, mengayuh sepeda kaki, sejauh kota ini. Aku menyimpan semua suka dan duka hari-hari di sekolahku, karna pada siapa aku bercerita.  Sedangkan Ibuku sibuk bekerja. Aku mengerjakan kesulitan-kesulitan PR sendiri. Ketika aku bersedih, aku hanya bisa menangis sendiri. Dan nilai kehidupan yang mestinya anak-anak dapatkan dari ayahnya, kudapatkan sendiri. Dan ketika rindu tiba, aku hanya bisa menangis dan berdoa,
‘Tuhan, kembalikanlah Ayahku..aku ingin bertemu dengannya. Dimana Ayahku.
Sampaikan kepadanya, Aku rindu. Aku ingin memeluk Ayah seperti teman-temanku. Dimana Ayahku’
Kau masih lebih baik dariku Jun Aku tersenyum.
Lalu melanjutkan, Masih ada Emak dan Bapak yang ada disampingmu. Emak dan Bapak yang ada di hatimu. Bapakmu bisa kau peluk kapanpun dan dimanamu saat kau rindu. Bapakmu masih ada untuk mendengarkan cerita hari-harimu. Tetapi tidak untukku Jun!
Inilah yang membuatku bertahan selama ini, Jun. Menjadi diriku yang seperti ini. Aku berharap, bila nanti waktunya aku dapat bertemu Ayahku, aku bisa memberikan nilai dan rapor-rapor yang kini kuhiasi dengan nilai sempurna. Aku tak tahu kapan waktu yang indah itu akan tiba. Kini, yang bisa kulakukan adal`h menjaga Ibuku, seperti Ayah menjagaku dan Ibu saat aku kecil, dan melakukan yang terbaik untuk Ayah.
Sayangi, Emak dan Bapakmu Jun. Selagi mereka masih ada..
Aku menutup buku itu. Dan menghentikan air mata yang mengalir, saat aku mengenang memori masa lalu.
Aku tahu.. Aku semakin rindu pada Ayahku,..
Rasa rindu ini telah hanyut bersama memori pada setiap lembaran-lembaran bukuku. Aku masih bisa merasakannya.
(menghela nafas) Sampaikan rinduku pada Ayah, aku ingin bertemu..  













Oleh : Ayufow

Friday, 3 August 2012

Aku Terpaksa Menikahinya...




Kisah inspiratif untuk para istri dan suami Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki : Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

 Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. 

Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku. Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami. Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. 

Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku. 

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi. Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya. “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??” “Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. 

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. 

Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. 

Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis. Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

 Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku. 

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. 

Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku. Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia. Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. 

Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

" Istriku Liliana tersayang, Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. "
 Oke, Buddy! Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta. 

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. 

Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?” Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.” Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.” Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.